Senin, 13 Juli 2009

Filariasis

  1. Pengertian

    1. Filariasis adalah suatu infeksi cacing gelang melalui nyamuk yang hanya sesekali bersifat zoonik. Dapat menimbulkan pembesaran yang menyolok dan cacat dari anggota tubuh

    2. Filariasis adalah suatu kelompok penyakit yang disebabkan oleh filarioidea di negara-negara tropis dan sub tropis.

    3. Filariasis adalah penyakit kaki gajah yang disebabkan oleh cacing benang (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

    4. Filariasis adalah suatu penyakit infeksi yang dapat dipindahkan oleh cacing filaria ke tubuh

  1. Etiologi

Wuchereria bancrofti hanya ditemukan pada manusia; Brugia malayi sering kali menyebar kepada manusia melalui inang hewan. Parasit dewasa hidup di sistem limphatik. Microfilaria yang dilepaskan oleh betina gravit ditemukan di darah perifer, biasanya pada malam hari. Infeksi menyebar melalui banyak genera nyamuk; vektor Wuchereria bancrofti adalah aedes, culex, dan anopheles; vektor Brugia malayi adalah anopheles dan mansonia. Microfilaria dimakan oleh nyamuk, berkembang di otot torax serangga, dan kemudian matur dan bermigrasi ke bagian mulut serangga. Jika nyamuk terinfeksi menggigit inang baru, microfilaria masuk ke tempat gigitan dan akhirnya mencapai saluran limfatik, dimana mereka manjadi matur.

Inflamasi dan fibrosis yang terjadi disekitar cacing dewasa dan mudah menghasilkan obstruksi limfatik progresif. Microfilaria mungkin tidak berperang langsung dalam reaksi inang.

Menurut dr Indan Entjang, agen penyebab penyakit kaki gajah adalah tiga spesies cacing filarial yaitu :

    1. Filaria bancrofti (Wuchereria bancrofti)

    2. Filaria malayi (Brugia malayi)

    3. Timor microfilaria (Brugia timori)

Agen penyebab yang tersering pada filariasis adalah Wuchereria bancrofti, yang tidak bersifat zoonotik. Brugia malayi bersifat zoonotik. Dirofilaria immitis kadang-kadang menginfeksi manusia (nematoda). Tidak ada vaksinnya.

Bentuk zoonotik dari Brugia malayi telah ditemukan di Malaya dan Filiphina. D. immitis ditemukan pada anjing di Amerika Selatan dan Utara, Australia, India, Timur Jauh dan Eropa; tetapi infeksi pada manusia telah dilaporkan terutama dari Amerika Serikat, sebagian kecil dari Kanada dan Australia.

Banyak spesies nyamuk sebagai vektor filariasis tergantung pada jenis cacing filarianya. Wuchereria bancrofti yang terdapat di daerah perkotaan (urban) ditularkan oleh Culex quinquefasciatus yang menggunakan air kotor dan tercemar sebagai tempat perindukannya. Wuchereria bancrofti yang di daerah pedesaan (rural) dapat ditularkan oleh bermacam spesies nyamuk. Di Irian Jaya Wuchereria bancrofti ditularkan terutama oleh Anopheles farauti yang dapat menggunakan bekas kaki binatang (hoofprint) untuk tempat perindukannya. Selain itu ditemukan juga sebagai vektor; Anopheles koliensis, Anopheles punctulatus, Culex annulirostris, dan Aedes kochi, Wuchereria bancrofti di daerah lain dapat ditularkan oleh spesies lain, seperti Anopheles subpictus di daerah pantai di NTT juga nyamuk Culex, Aedes pernah ditemukan sebagai vektor.

Brugia malayi yang hidup pada manusia dan hewan biasanya ditularkan oleh berbagai spesies mansonia seperti Mansonia uniferormis, Mansonia bonneae, Mansonia dives dll, yang berkembang biak di daerah rawa di Sumatera, Kalimantan, Maluku dll. Brugia malayi yang periodik ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang memakai sawah sebagai tempat perindukannya seperti daerah Sulawesi.

Brugia timori, spesies baru yang ditemukan di Indonesia sejak 1965 hingga sekarang hanya ditemukan di daerah NTT dan Timor-Timur ditularkan oleh Anopheles barbirostris yang berkembang biak di daerah sawah baik dekat pantai maupun di daerah pedalaman.

  1. Masa Inkubasi

    1. Antara 3-8 bulan tapi kadang-kadang hingga 12 bulan

    2. Pada manusia antara 3-15 bulan sedangkan pada hewan bervariasi sampai beberapa bulan

    3. Masa inkubasi mungkin sesingkat 2 bulan. Periode pra paten (dari saat infeksi sampai tampaknya microfilaria di dalam darah) sekurang-kurangnya 8 bulan.

  1. Gejala Filariasis

Cacing Filaria sp hidup di dalam pembuluh-pembuluh dan kelenjar getah bening (jaringan limfe). Karena itu gejala penyakitnya ditandai dengan radang pada pembuluh-pembuluh dan kelenjar-kelenjar getah bening disertai dengan demam yang datang secara mendadak dan berulang-ulang. Peradangan dan penyumbatan-penyumbatan pada saluran getah bening menyebabkan bendungan limfe disebelah distal sehingga terjadi pembengkakan di scrotum (kantung buah pelir kemaluan pria) dan di kaki (kaki gajah).

Bendungan dalam pembuluh getah bening dada (ductus thoracicus) akan menyebabkan pecahnya saluran limfe dalam ginjal sehingga urine mengandung limfe (chyluria = air kencing tampak seperti susu karena mengandung lemak dari limfe).

Manifestasi klinik tergantung pada keparahan infeksi; manifestasi bisa berupa limfhangitis, lymphadenitis, orkitis, funikulitis, epididimitis, farises limphatik, dan chyluria. Menggigil, demam, nyeri kepala, dan malaise mungkin juga ditemukan. Elephantiasis dan sekuela parah lanjut lain terjadi pada penduduk di daerah endemik dan re infeksi berulang.

Sedangkan menurut buku Zoonosis, pada manusia terjadi demam berulang, limphadenopati, limphangitis dan akses. Pembesaran yang menyolok dari anggota gerak tubuh (Elephantiasis) dan jarang terjadi hidrokel yang berkembang setelah bertahun-tahun. Pada hewan D. immitis dijumpai dibilik kanan dan arteri pulmonal anjing. Infeksi ringan tidak menimbulkan gejala tetapi infeksi yang menahun menyebabkan jantung tidak bekerja dengan tidak semestinya disertai asites dan bendungan pasif.

Microfilaria yang biasanya tidak menimbulkan kelainan, dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan occult filariasis. Perjalanan penyakit filariasis limphatik dapat dibagi dalam beberapa stadium :

  1. Stadium Mikrofilaremia tanpa gejala klinis

  2. Stadium akut ditandai dengan gejala peradangan pada saluran dan kelenjar limpah, berupa lymphadenitis dan limphangitis retrograde. Gejala peradangan tersebut hilang timbul beberapa kali dalam setahun dan berlangsung beberapa hari sampai satu, sampai dua minggu lamanya. Yang paling sering dijumpai adalah peradangan pada sistem limphatik alat kelamin pria, menimbulkan funikulitis, epididimitis dan orkhitis. Saluran sperma yang meradang, membengkak menyerupai tali dan sangat nyeri pada perabaan.

  3. Stadium menahan. Gejala klinis yang paling sering dijumpai adalah hidrokel. Kadang-kadang dijumpai gejala limfedema dan elephantiasis yang dapat mengenai seluruh tungkai, seluruh lengan, buah zakar, payudara dan vulva. Kadang-kadang dapat pula terjadi kiluria.

  1. Penularan Filariasis

Penularan ke manusia melalui gigitan vektor nyamuk (Mansonia dan Anopheles). Bila manusia digigit maka microfilaria akan menempel di kulit dan menembus kulit melalui luka tusuk dan melalui sistem limfe ke kelenjar getah bening. Cacing yang sedang hamil akan menghasilkan microfilaria. Cacing tersebut muncul dalam darah dan menginfeksi kembali serangga yang menggigit.

Pada manusia, masa pertumbuhan penularan filariasis belum diketahui secara pasti, tetapi diduga ± 7 bulan. Microfilaria yang terisap oleh nyamuk melepaskan sarungnya di dalam lambung, menembus dinding lambung dan bersarang diantara otot-otot torax. Mula-mula parasit ini memendek, bentuknya menyerupai sosis dan disebut larva stadium I. dalam waktu ± seminggu, larva ini bertukar kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang dan disebut larva stadium II. Pada hari ke 10 dan selanjutnya, larva ini bertukar kulit sekali lagi, tumbuh makin panjang dan lebih kurus dan disebut larva stadium III. Larva ini sangat aktif dan sering bermigrasi mula-mula ke rongga abdomen kemudia ke kepala dan alat tusuk nyamuk. Bila nyamuk yang mengandung larva stadium III ini menggigit manusia, maka larva tersebut secara aktif masuk melalui luka tusuk ke dalam tubuh hospes dan bersarang di saluran limpah setempat. Di dalam tubuh hospes, larva ini mengalami dua kali pergantian kulit, tumbum menjadi larva stadium IV, stadium V atau stadium dewasa. Umur cacing dewasa filarial 5-10 tahun.

Cara penularan filariasis melalui gigitan nyamuk Culex fatigans.

  1. Diagnosis Dan Pencegahan

Bentuk menyimpang dari filariasis (eosinoffilia tropikal) ditandai oleh hipereosinivilia, adanya microfilaria di jaringan tetapi tidak terdapat di dalam darah, dan titer antibody antifilaria yang tinggi. Microfilaria mungkin ditemukan di cairan limphatik. Tes serologi telah tersedia tetapi tidak dapat diandalkan sepenuhnya.

Diagnosa berdasarkan gejala klinis dan dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium:

    1. Deteksi parasit yaitu menemukan microfilaria di dalam darah, cairan hirokel atau cairan chyluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal, teknik konsentrasi Knott dan membran filtrasi. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari mengingat periodisitas mikrofilarianya umumnya nokturna. Pada pemeriksaan histopatologi, kadang-kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai pada saluran dan kelenjar limpah dari jaringan yang di curigai sebagai tumor.

    2. Diferensiasi spesies dan stadium filarial, yaitu dengan menggunakan pelacak DNA yang spesies spesifik dan antibody monoclonal untuk mengidentifikasi larva filarial dalam cairan tubuh dan dalam tubuh nyamuk vektor sehingga dapat membedakan antara larva filarial yang menginfeksi manusia dengan yang menginfeksi hewan. Penggunaannya masih terbatas pada penelitian dan survei

Identifikasi microfilaria di dalam darah dengan uji serelogis yang terdiri dari ELISA, immunofluoresensi tidak langsung dan uji hemaglutinasi tidak langsung .

Menurut dr. Indan Entjang (2000) dalam bukunya Ilmu Kesehatan Masyarakat, harus meniadakan sumber penularan dengan mencari dan mengobati penderita. Memberantas vektor penyakit yaitu memberantas nyamuk Culex fatigans dan larvanya. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit filariasis :

      1. Tidur berkelambu

      2. Perlunya pengenalan penyakit secara dini dan pengobatan yang segera

      3. Agar setiap anggota masyarakat turun aktif dalam usaha-usaha pemberantasan penyakit

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan mengontrol vektor dan menghindari gigitannya, serta pengobatan anjing dengan tiasetarsamida setiap 6 bulan pada daerah yang sangat enzootik

  1. Pengobatan

Diethil Carbamazine Citrae (DEC) merupakan obat pilihan baik untuk pengobatan perorangan maupum massal yang bersifat membunuh microfilaria dan juga cacing dewasa pada pengobatan jangka panjang. Pengobatan perorangan ditujukan untuk menghancurkan parasit dan eliminasi, mengurangi, atau mencegah kesakitan. Dosis yang dianjurkan 6 mg/kg berat badan/ hari selama 12 hari. Dosis harian obat tersebut dapat diberikan dalam 3x pemberian setelah makan. Obat lain yang juga dipakai Ivermektin yaitu antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktifitas luas terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh microfilaria. Efek samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Diberikan sebagai dosis tunggal 40 ug/kg berat badan dapat sebagai obat tunggal (setiap 6 bulan sekali) atau dikombinasikan Diethyl Carbamazine dosis tunggal (diberikan setahun sekali).

Penyakit Diare

  1. Pengertian

Diare ada dua : ada diare sehari-hari, yang lazim kita dengar atau alami, misal kalau salah makan. Tidak biasa makan sambal, iseng makan sambal, bisa meyebabkan munculnya diare. Biasanya sembuh sendiri, dengan atau tanpa obat. Diare yang satunya lagi jelas tidak sama, yaitu bila serangannya lebih kerap dari lima kali sehari. Tak Cuma itu, sebab umumnya disertai pula dengan keluhan dan gejala yang lebih satu macam dan merepotkan misalnya, pusing, nyeri kepala, mungkin muntah, mulasnya hebat dan bisa juga ditambah demam. (Health.Com,2007)

Diare adalah gejala buang air besar dengan konsistensi feses (tinja) lembek, atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan Frekuensinya bisa terjadi lebih dari dua kali sehari dan berlangsung dalam jangka waktu lama tapi kurang dari 14 hari. Seperti diketahui, pada kondisi normal, orang biasanya buang besar sekali atau dua kali dalam sehari dengan konsistensi feses padat atau keras.( halalguide.info.Com,2007)

Diare kadang-kadang disertai dengan muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan serta darah dan lender terdapat dalam kotoran. Diare disebut juga Muntahber ( Muntah berak), Muntah mencret atau Muntah bocor.. Diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak kehilangan cairan tubuh maka hal ini dpat menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak dibawah umur 5 tahun.

Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawah kuman yang berak disembarang tempat. Tinja tersebut mencemari lingkungan misalnya: tanah, sungai, dan air sumur. Maka orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemar akan menderita diare.

Menurut Ellis dan Mitchell (1973) membagi diare pada bayi dan anak secarah luas berdasarkan lamanya diare yakni :

  1. Diare akut adalah diare yang timbul secara mendadak dan berhenti cepat atau maksimal berlangsung sampai dua minggu.

  2. Diare kronik adalah diare yang berlangsung dua minggu atau lebih umumnya bersifat menahun. Diantara diare akut dan kronik disebut diare subakut. (Diare Akut Klinik dan Laboratorik, 1985)

  1. Penyebab Diare

Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa factor, yaitu:

  1. Faktir infeksi

    • Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, yang meliputi: Infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya).Infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain). Infeksi parasit (Cacing, Protozoa, dan Jamur).

    • Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumania, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

  2. Faktor malabsorbsi

    • Malabsorbsi karbohidrat: Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa). Monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.

    • Malabsorbsi lemak.

    • Malabsorbsi protein.

  1. Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

  2. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas.

(Ilmu kesehatan anak, 1985)

  1. Gejala-Gejala Diare

Gejala klinis diare pada bayi dan anak , ditandai oleh: mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare.

Tinja cair dan mungkin disertai lender dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.


Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lender bibir dan mulut serta kulit tampak kering.

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi:

  1. Diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan)

    • Berak cair 1-2 kali sehari

    • Tidak haus dan tidak muntah

    • Masih bisa makan dan bermain

  2. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang

    • Berak cair 4-9 kali sehari

    • Kadang muntah 1-2 kali sehari.

    • Kadang panas

    • Haus

    • Tidak mau makan

    • Badan lesu lemas.

  3. Diare dengan dehidrasi berat

    • Berak cair terus-menerus

    • Muntah terus-menerus

    • Haus sekali

    • Mata cekung

    • Bibir kering dan biru

    • Tangan dan kaki dingin

    • Sangat lemah

    • Tidak mau makan

    • Tidak mau bermain

    • Tidak kencing 6 jam atau lebih

    • Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi



Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi:

  1. Dehidrasi hipotonik (dehidrsi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma kurang dari 130 mEq/l.

  2. Dehidrasi isotonic (dehidrasi isonatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma 130-150 mEq/l.

  3. Dehidrasi hipertonik (dehidrasi hipernatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma lebih dari 150 mEq/l.

(Ilmu Kesehatan Anak, 1985)

  1. Diagnosis Diare

Penyebab diare dapat diperjelas dengan pemeriksaan laboratorium, diantaranya:

  1. Pemeriksaan tinja

    • Makroskopis dan mikroskopis

    • PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula

    • Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi

  2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan)

  3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

  4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang)

  5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis-jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

  1. Pencegahan

Sediakan sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal, seperti air bersih dan jamban/WC yang representatif. Pembuatan jamban harus disesuaikan dengan persyaratan sanitasi. Misalnya, jarak antara jamban kita (juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air paling sedikit berjarak 10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan begitu, kita bisa menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari, entah untuk memasak, mandi, dan sebagainya.

Menurut Dinas Kesehatan DKI (2004) ada tiga cara untuk mencegah diare yaitu :

  1. Minumlah air dan makanan yang sudah dimasak

  2. Susuilah anak selama mungkin, disamping makanan lainnya sesuai umur.

  3. Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya, tetaplah anak disusui walaupun anak menderita diare.

Penyakit diare juga dapat dicegah dengan cara mencuci tangan, tidak dengan air saja tetapi menggunakan sabun karena mencuci tangan dengan sabun akan mengurangi insiden diare. (Articel diare.Com,2004)

  1. Pengobatan

Upaya pertolongan bagi penderita diare meliputi tiga dasar pengobatan, diantaranya:

      1. Pemberian cairan

Cairan yang diberikan bagi penderita diare, yaitu cairan rehidrasi oral dan dan cairan parenteral. Cairan rehidrasi oral terdiri dari formula lengkap yaitu formula yang mengandung NaCl, NaHCO3, KCL, dan glukosa. Serta formula sederhana yaitu formula yang hanya mengandung NaCl, dan sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam, dan sebagainya,cairan ini diberikan untuk pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan diare akut, baik sebelum ada dehidrasi maupun setelah ada dehidrasi ringan.

Sedangkan cairan parenteral terdiri dari: DG aa (1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5%), RL g (1 bagian Ringer laktat + 1 bagian glukosa 5 %), RL (Ringer Laktat), 3 @ (1 bagian NaCl 0,9% + 1 bagian glukaosa 5% + 1 bagian Na laktat 1/6 mol/l), DG 1:2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%), RLg 1:3 (1 bagian Ringer laktat + 3 bagian glukosa 5-10%), Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO3 1 ½ % atau 4 bagian glokosa 5-10% + 1 bagian NaCl 0,9%).

Cairan tersebut di atas diberikan melalui 3 jalan yaitu : Peroral (untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik). Intragastrik (untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi anak tidak mau minum atau kesadaran menurun). Intavena (untuk dehidrasi berat).

b. Dietetik (pemberian makanan)

Dengan memberikan susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron), makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu, dan atau makanan dengan gizi tinggi yang cukup agar stamina tubuh berangsur kuat.

c. Obat-obatan

Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. Yang tergolong obat diare, antara lain: Obat anti sekresi (asetosal dan klorpromazin). Obat anti spasmolitik (papaverine, ekstrak beladona, opium, loperamid dan sebagainya). Obat pengeras tinja (koalin, pektin, charcoal, tabonal, dan sebagainya). Dan antibiotika.

(Ilmu kesehatan anak,1985).

Diare

  1. Pengertian

Diare ada dua : ada diare sehari-hari, yang lazim kita dengar atau alami, misal kalau salah makan. Tidak biasa makan sambal, iseng makan sambal, bisa meyebabkan munculnya diare. Biasanya sembuh sendiri, dengan atau tanpa obat. Diare yang satunya lagi jelas tidak sama, yaitu bila serangannya lebih kerap dari lima kali sehari. Tak Cuma itu, sebab umumnya disertai pula dengan keluhan dan gejala yang lebih satu macam dan merepotkan misalnya, pusing, nyeri kepala, mungkin muntah, mulasnya hebat dan bisa juga ditambah demam. (Health.Com,2007)

Diare adalah gejala buang air besar dengan konsistensi feses (tinja) lembek, atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan Frekuensinya bisa terjadi lebih dari dua kali sehari dan berlangsung dalam jangka waktu lama tapi kurang dari 14 hari. Seperti diketahui, pada kondisi normal, orang biasanya buang besar sekali atau dua kali dalam sehari dengan konsistensi feses padat atau keras.( halalguide.info.Com,2007)

Diare kadang-kadang disertai dengan muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan serta darah dan lender terdapat dalam kotoran. Diare disebut juga Muntahber ( Muntah berak), Muntah mencret atau Muntah bocor.. Diare dapat menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Bila penderita diare banyak kehilangan cairan tubuh maka hal ini dpat menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak dibawah umur 5 tahun.

Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawah kuman yang berak disembarang tempat. Tinja tersebut mencemari lingkungan misalnya: tanah, sungai, dan air sumur. Maka orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemar akan menderita diare.

Menurut Ellis dan Mitchell (1973) membagi diare pada bayi dan anak secarah luas berdasarkan lamanya diare yakni :

  1. Diare akut adalah diare yang timbul secara mendadak dan berhenti cepat atau maksimal berlangsung sampai dua minggu.

  2. Diare kronik adalah diare yang berlangsung dua minggu atau lebih umumnya bersifat menahun. Diantara diare akut dan kronik disebut diare subakut. (Diare Akut Klinik dan Laboratorik, 1985)

  1. Penyebab Diare

Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa factor, yaitu:

  1. Faktir infeksi

    • Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare, yang meliputi: Infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya).Infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dan lain-lain). Infeksi parasit (Cacing, Protozoa, dan Jamur).

    • Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumania, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.

  2. Faktor malabsorbsi

    • Malabsorbsi karbohidrat: Disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa). Monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah intoleransi laktosa.

    • Malabsorbsi lemak.

    • Malabsorbsi protein.

  1. Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

  2. Faktor psikologis: rasa takut dan cemas.

(Ilmu kesehatan anak, 1985)

  1. Gejala-Gejala Diare

Gejala klinis diare pada bayi dan anak , ditandai oleh: mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare.

Tinja cair dan mungkin disertai lender dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare.


Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lender bibir dan mulut serta kulit tampak kering.

Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi:

  1. Diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan)

    • Berak cair 1-2 kali sehari

    • Tidak haus dan tidak muntah

    • Masih bisa makan dan bermain

  2. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang

    • Berak cair 4-9 kali sehari

    • Kadang muntah 1-2 kali sehari.

    • Kadang panas

    • Haus

    • Tidak mau makan

    • Badan lesu lemas.

  3. Diare dengan dehidrasi berat

    • Berak cair terus-menerus

    • Muntah terus-menerus

    • Haus sekali

    • Mata cekung

    • Bibir kering dan biru

    • Tangan dan kaki dingin

    • Sangat lemah

    • Tidak mau makan

    • Tidak mau bermain

    • Tidak kencing 6 jam atau lebih

    • Kadang-kadang dengan kejang dan panas tinggi



Berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi:

  1. Dehidrasi hipotonik (dehidrsi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma kurang dari 130 mEq/l.

  2. Dehidrasi isotonic (dehidrasi isonatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma 130-150 mEq/l.

  3. Dehidrasi hipertonik (dehidrasi hipernatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma lebih dari 150 mEq/l.

(Ilmu Kesehatan Anak, 1985)

  1. Diagnosis Diare

Penyebab diare dapat diperjelas dengan pemeriksaan laboratorium, diantaranya:

  1. Pemeriksaan tinja

    • Makroskopis dan mikroskopis

    • PH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinistest, bila diduga terdapat intoleransi gula

    • Bila perlu dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi

  2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah dengan menentukan PH dan cadangan alkali atau lebih tepat lagi dengan pemeriksaan analisa gas darah menurut ASTRUP (bila memungkinkan)

  3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

  4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar natrium, kalium, kalsium, dan fosfor dalam serum (terutama pada penderita diare yang disertai kejang)

  5. Pemeriksaan intubasi duodenum untuk mengetahui jenis-jenis jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif terutama dilakukan pada penderita diare kronik.

  1. Pencegahan

Sediakan sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan tempat tinggal, seperti air bersih dan jamban/WC yang representatif. Pembuatan jamban harus disesuaikan dengan persyaratan sanitasi. Misalnya, jarak antara jamban kita (juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air paling sedikit berjarak 10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan begitu, kita bisa menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari, entah untuk memasak, mandi, dan sebagainya.

Menurut Dinas Kesehatan DKI (2004) ada tiga cara untuk mencegah diare yaitu :

  1. Minumlah air dan makanan yang sudah dimasak

  2. Susuilah anak selama mungkin, disamping makanan lainnya sesuai umur.

  3. Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya, tetaplah anak disusui walaupun anak menderita diare.

Penyakit diare juga dapat dicegah dengan cara mencuci tangan, tidak dengan air saja tetapi menggunakan sabun karena mencuci tangan dengan sabun akan mengurangi insiden diare. (Articel diare.Com,2004)

  1. Pengobatan

Upaya pertolongan bagi penderita diare meliputi tiga dasar pengobatan, diantaranya:

      1. Pemberian cairan

Cairan yang diberikan bagi penderita diare, yaitu cairan rehidrasi oral dan dan cairan parenteral. Cairan rehidrasi oral terdiri dari formula lengkap yaitu formula yang mengandung NaCl, NaHCO3, KCL, dan glukosa. Serta formula sederhana yaitu formula yang hanya mengandung NaCl, dan sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam, dan sebagainya,cairan ini diberikan untuk pengobatan pertama di rumah pada semua anak dengan diare akut, baik sebelum ada dehidrasi maupun setelah ada dehidrasi ringan.

Sedangkan cairan parenteral terdiri dari: DG aa (1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5%), RL g (1 bagian Ringer laktat + 1 bagian glukosa 5 %), RL (Ringer Laktat), 3 @ (1 bagian NaCl 0,9% + 1 bagian glukaosa 5% + 1 bagian Na laktat 1/6 mol/l), DG 1:2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%), RLg 1:3 (1 bagian Ringer laktat + 3 bagian glukosa 5-10%), Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO3 1 ½ % atau 4 bagian glokosa 5-10% + 1 bagian NaCl 0,9%).

Cairan tersebut di atas diberikan melalui 3 jalan yaitu : Peroral (untuk dehidrasi ringan, sedang dan tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik). Intragastrik (untuk dehidrasi ringan, sedang atau tanpa dehidrasi, tetapi anak tidak mau minum atau kesadaran menurun). Intavena (untuk dehidrasi berat).

b. Dietetik (pemberian makanan)

Dengan memberikan susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh, misalnya LLM, Almiron), makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim) bila anak tidak mau minum susu, dan atau makanan dengan gizi tinggi yang cukup agar stamina tubuh berangsur kuat.

c. Obat-obatan

Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. Yang tergolong obat diare, antara lain: Obat anti sekresi (asetosal dan klorpromazin). Obat anti spasmolitik (papaverine, ekstrak beladona, opium, loperamid dan sebagainya). Obat pengeras tinja (koalin, pektin, charcoal, tabonal, dan sebagainya). Dan antibiotika.

(Ilmu kesehatan anak,1985).


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Architecture. Powered by Blogger